Kecanduan Judi Online Masalah Mental Remaja Fatal

kecanduan judi online

Ilustrasi situs judi online

Kecanduan Judi Masalah Mental Remaja meningkat. LPAI melaporkan anak usia 13–17 tahun rentan adiksi judi daring akibat akses gawai tanpa pengawasan

Akses Situs Judi online masalah Mental di Kalangan Remaja Semakin Terbuka

Ketua LPAI, Seto Mulyadi, menyatakan bahwa maraknya promosi situs judi online melalui media sosial berperan besar dalam memperluas jangkauan mereka ke usia remaja. “Kami menemukan banyak anak yang mulai mencoba Judi online masalah karena terpapar iklan saat bermain game atau berselancar di media sosial,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/4/2025).

Menurutnya, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena selain mengganggu prestasi akademik, remaja yang mengalami Masalah Mental Remaja juga menunjukkan gejala stres, penurunan emosi, bahkan gejala depresi.


Peningkatan Konsultasi Psikolog Remaja Masalah Mental Remaja

masalah mental remaja

Psikolog klinis dari RSUP Persahabatan, Ratna Wardani, menjelaskan bahwa jumlah pasien Masalah Mental Remaja dengan keluhan kecanduan terhadap platform digital meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu. Sebagian besar dari mereka mengaku pertama kali mengenal judi dari teman sebaya dan masalah mental remaja yang menyamar sebagai game.

“Kami menangani lebih banyak anak yang datang karena mengalami kehilangan uang jajan, mencuri dari orang tua, hingga isolasi sosial akibat dorongan terus-menerus untuk bermain,” kata Ratna. Ia menegaskan bahwa kecanduan judi online kini masuk kategori gangguan perilaku adiktif yang membutuhkan intervensi psikologis.

Baca Selengkapnya: Upaya Pemberantasan Judi Online Pemerintah


Judi Online Masalah
Ilustrasi kencanduan judi online

Regulasi dan Literasi Digital Dinilai Masih Lemah

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital mengakui bahwa masih banyak situs judi online yang lolos dari sistem pemblokiran. Juru bicara Komdigi, Nur Rahma, menyatakan bahwa sistem saat ini terus dikembangkan namun keterbatasan teknologi dan perubahan domain yang cepat membuat pengawasan sulit dilakukan secara menyeluruh.

“Kami berharap orang tua lebih aktif mendampingi penggunaan gawai di rumah. Filter saja tidak cukup, perlu pendekatan komunikasi dan pemahaman bersama,” ucapnya.


Pencegahan Butuh Sinergi Keluarga dan Sekolah

Sinergi Konsultan Indonesia Karir & Profil Terbaru 2025 | Glints

Ahli pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Anisa Ardianti, menyebut bahwa pencegahan kecanduan judi online memerlukan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan digital. Ia mengusulkan agar pendidikan literasi digital diperkuat sejak usia SD.

“Anak-anak tidak cukup hanya diberi larangan. Mereka harus paham risikonya dan tahu cara menghindari jebakan digital, termasuk iklan terselubung dari situs judi online,” kata Anisa.


Lonjakan kasus kecanduan judi online di kalangan remaja menjadi sinyal bahaya bagi sistem perlindungan anak di era digital. Pemerintah, pendidik, dan keluarga dituntut untuk bersinergi membatasi paparan terhadap situs judi online serta memperkuat sistem dukungan psikologis agar generasi muda tidak terjerumus lebih dalam.

Dukung Jurnalisme Berkualitas! Kasus dan Sidang Judi Online : Authoritative TNI AU 19 Personel Dihukum